Prosa Lebaran

Di suatu perayaan tahunan keluarga, saat kemenangan tiba, di antara kerumunan orang-orang bergembira, aku menarikmu menjauh. Kita berdua menyendiri di bawah pohon. Ada meja kecil jamuan di situ. Kita bercengkrama berdua sambil minum sirup manis dingin, dan kue-kue. Kau terlihat rileks dan suara tawamu bergema panjang. Mengaliri udara di antara rerimbunan pohon dan bunga dihalaman belakang rumah besarmu.

Pakaianmu bagus warnanya, keemasan. Tatapan mata ceriamu dibalik kacamata membuatku slalu ingin tersenyum. Lalu kita kembali larut dalam perbincangan tentang masalalumu, masalaluku. Aku terpaku mengikuti alur critamu menyusuri masalalu yang menakjubkan. Sesekali aku menimpali, dan mengucapkan pujian. Seperti biasanya kau memberikan senyum manismu, dan sedikit tawamu yang alto.

Kemudian dengan basabasi manismu, saat kau lihat pramusaji lewat kau menawarkan kembali aku minuman. Aku hanya menggeleng dan tersenyum. Lalu kutanya bagaimana dengan bukumu, kapan selesai. Jawabmu hanya singkat, satu-satu dulu. Kita melanjutkan crita, kali ini ke masa kini.Kau bicara betapa banyak hal tertunda karena sesuatu membuatmu memutuskan menunda. Suatu musibah. Beruntung musibah itu selesai. Aku tersenyum kembali mengingat kau pernah pesimis tentang musibah itu. Kita kembali bertukar senyum.

Perjalanan ke masalalu dan persinggahan masa kini melalui kata-katamu dan kata-kataku masih berlanjut, kali ini kita banyak mengungkit cerita lucu tentang kanak-kanak, tentang bagaimana pacar pertamamu dulu tentang aku. Tentang aku yang tak bisa berenang karena trauma tenggelam di kali dekat rumah di Jakarta. Jakarta puluhan tahun lalu. Tentang bagaimana kau tinggal di daerah rimba yang masih Jakarta, puluhan tahun lalu.

Lalu waktu menjemputmu dan mengingatkan aku untuk menyudahi perjalanan hari ini. Aku pamit padamu, menyelinap lewat pintu depan. Tak ada yang tahu, tak ada yang peduli. Sun pipi adalah tanda mata kita berdua. Kita berjanji akan tetap saling berhubungan, saling menyayangi dengan cara kita, yang paling sederhana, murah dan santun.

Perjalananku kembali ke realitas, berkendara menuju rumah. Sekali lagi kukirimkan kata-kata, terimakasih, telah memberi sebagian tawamu, ceriamu, dukamu dan sebagian jiwamu padaku, walau hanya sebentar dan sementara.(Lebaran 2009,  B)

About puisiumipoet

Saya perempuan Indonesia, lahir dan dibesarkan di tanah Jakarta. Betapapun kehidupan dunia dipenuhi penderitaan dan bencana selalu ada yang manis dan baik dari sana. Though the world full of tears and pain, still there are much hope and sweetness, there's a flower among the garbages. umi

Posted on September 20, 2009, in Inspirations, Prosa Rasa and tagged . Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: